Home » Blog » Tentang Batik » Tantangan Transformasi Batik di Era Milenial

Tantangan Transformasi Batik di Era Milenial

Batik di era milenial

Bermula dari sebuah titik, batik telah melalui perjalanan Panjang. Batik kini tak hanya lagi milik orang yang mapan, namun sudah menjadi bagian dari gaya hidup kawula muda di era milenial.

 

Batik di era milenial menjadi minat dan pemahaman kaum muda. Anak muda generasi milenial tak segan lagi berbatik. Tak sedikit dari mereka yang belajar mengenal, mempelajari hingga membuatnya sendiri.

 

Sebagai anak muda, tak boleh berbangga hanya karena warisan batik telah diakui UNESCO sebagai warisan budaya non-bendawi. Agar tetap eksist dan tak diambil oleh negara lain, sebagai kawula muda milenial kita harus melestarikan, mempelajari dan mengenakannya setiap saat.

 

Mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyebutkan bahwa pengukuhan UNESCO bisa meningkatkan citra positif dan mengangkat martabat bangsa Indonesia di forum internasional.

 

Sejak saat itu masyarakat Indonesia semakin bangga dan gemar mengenakan batik. Banyak perusahaan yang mewajibkan atau memberikan seragam batik untuk dikenakan karyawannya setiap hari jum’at.

 

Kebersamaan dan kebanggaan memakai batik banyak di tunjukan anak muda di linimasa media sosial seperti Instagram, Facebook, Twitter, Pinterest dan Path dengan mengirimkan foto selfi atau berkelompok.

 

Setiap tanggal 2 Oktober Hari Batik Nasional, hastag dan tagar “Selamat Hari Batik Nasional” menjadi tranding topic dan menduduki peringkat pertama di Twitter dan Instagram di Indonesia. Ini menandakan betapa besarnya kecintaan masyarakat terhadap batik.

 

Melalui surat edaran nomor SE-11/SESKAB/X/2013 tertanggal 1 Oktober 2014, Sekretaris Kabinet meminta Menteri dan jajaran Lembaga pemerintahan dan non pemerintahan agar memerintahkan pegawainya mengenakan batik pada tanggal 2 Oktober 2014.

 

Berbagai kalangan dari pekerja kantoran, pelajar, guru, mahasiswa dan komunitas mulai mengenakan batik. Batik menjadi salah satu wastra (kain) nusantara yang dibanggakan.

 

Baca Juga : Tahapan Penting Pembuatan Seragam Batik

 

Batik di Era Milenial Semakin Kreatif dan Inovatif

Memasuki era milenial, batik tak hanya sebatas pakaian yang terkesan formal. Banyak tangan kreatif yang membuat semakin inovatif dan menjadikan batik lebih fleksibel. Seperti di Seragam Omah laweyan, Anda bisa membuat batik kontemporer yang casual.

 

Sentuhan batik kontemporer di Batik Omah Laweyan seperti dompet, totebag, Bantal duduk, sandal dan barang sehari-hari Bikin batik semakin cantik. Tak hanya itu, banyak motif berkembang dan tampak semakin elegan. Motif batik juga menjadi tren seragam sekolah. Banyak instansi Pendidikan yang mewajibkan murid-muridnya mengenakan batik.

 

Pamor batik semakin meningkat tak lepas dari kreativitas para perancang busana batik yang kerap memasukan ragam motif batik dalam rancangan busana modern dan aksesorisnya. Motif pakaian batik semakin banyak diminati masyarakat karena lebih fleksibel dan mudah disesuaikan seragam untuk momentum acara tanpa khawatir terkesan kuno atau ketinggalan zaman.

 

Berasal dari Laweyan, Solo kini menjadi saksi bisu sejarah batik dimana sekarang sudah menjangkau kalangan luas.

 

Tak ada paksaan untuk berbatik. Kalau bukan generasi anak muda, siapa lagi yang akan meneruskan warisan budaya ini. Melestarikan batik tak harus repot-repot membuatnya sendiri, cukup memakainya saja maka Anda ikut andil dalam pelestarian.

 

Seragam Omah Laweyan

 380 total views,  1 views today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *